Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    TUKAR DOLAR    Sepakbola    NAMA OBAT    APOTIK   
perpustakaanindonesia1.blogspot.com Real PR
Powered by Blogger.

Blog Archive

Showing posts with label askep JIWA. Show all posts
Showing posts with label askep JIWA. Show all posts

LP JIWA MENARIK DIRI



A. Masalah Utama
Isolasi sosial: menarik diri.
B. Pengertian
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.
C. Proses Terjadinya Masalah
Menarik diri dipengaruhi oleh faktor perkembangan dan sosial budaya. Faktor perkembangan yang terjadi adalah kegagalan individu sehingga terjadi tidak percaya pada orang lain, ragu, takut salah, pesimis putus asa terhadap hubungan dengan orang lain dan gangguan konsep diri, dimana klien merasa dirinya tak berharga.
Menarik diri bisa juga disebabkan oleh; perceraian, putus hubungan, peran keluarga yang tidak jelas, orang tua pecandu alkohol dan penganiayaan anak.
Resiko dari perilaku menarik diri adalah terjadinya perubahan sensori persepsi (halusinasi). Manifestasi klinik pada klien dengan menarik diri adalah apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, banyak diam diri di kamar, menunduk, menolak hubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang posisi tidur seperti janin (menekur).
D. Pohon masalahResiko perubahan persepsi sensori: halusinasi ...<<< Gangguan konsep diri: harga diri rendah
E. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1. Masalah keperawatan:
a. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi
b. Isolasi sosial: menarik diri
c. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
2. Data yang perlu dikaji
a. Data obyektif:
Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam.
b. Data subyektif:
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau tidak.
F. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
2. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik diri.
G. Rencana tindakan.
a. Tujuan umum: Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
b. Tujuan khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
1.1. Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, memperkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kesepakatan / janji dengan jelas tentang topik, tempat, waktu.1.2. Beri perhatian dan penghargaan: temani klien walau tidak menjawab1.3. Dengarkan dengan empati : beri kesempatan bicara, jangan terburu buru, tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien.
2. Klien dapat menyebut penyebab menarik diri
Tindakan:
2.1. Bicarakan penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain.
2.2. Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri.
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan hubungan dengan orang lain
Tindakan:
4.1. Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain.
4.2. Bantu mengidentifikasikan kernampuan yang dimiliki untuk bergaul.
4. Klien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap: klien perawat, klien perawat klien lain, perawat-klien kelompok, klien keluarga.
Tindakan:
4.1. Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien jika mungkin perawat yang sama.
4.2. Motivasi temani klien untuk berkenalan dengan orang lain
4.3. Tingkatkan interaksi secara bertahap
4.4. Libatkan dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi
4.5. Bantu melaksanakan aktivitas setiap hari dengan interaksi
4.6. Fasilitasi hubungan kilen dengan keluarga secara terapeutik
5. Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain
Tindakan:
5.1. 
Diskusi dengan klien setiap selesai interaksi / kegiatan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
6. Klien mendapat dukungan keluarga
Tindakan:
6.1. Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga
6.2. 
Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

Pengertian Halusinasi
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn, 1998). Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan sadar/terbangun. (Maramis, hal 119)Halusinasi yaitu gangguan persepsi (proses penyerapan) pada panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar pada pasien dalam keadaan sadar.

Tanda dan gejala :

Bicara, senyum dan tertawa sendiri
Menarik diri dan menghindar dari orang lain
Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata
Tidak dapat memusatkan perhatian
Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut
Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung
Penyebab dari Halusinasi
Salah satu penyebab dari Perubahan sensori perseptual : halusinasi yaitu isolasi social : menarik diri. Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlins,1993).

Masalah keperawatan

Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Perubahan sensori perseptual : halusinasi
Isolasi sosial : menarik diri



Diagnosa Keperawatan

1. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi.
2. Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri.


Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa 1: Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perubahan sensori perseptual : halusinasi.

Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan :
Salam terapeutik – perkenalan diri – jelaskan tujuan – ciptakan lingkungan yang tenang – buat kontrak yang jelas (waktu, tempat, topik).
Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
Empati.
Ajak membicarakan hal-hal yang ada di lingkungan.


1. Klien dapat mengenal halusinasinya.
Tindakan :
1. Kontak sering dan singkat.
2. Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan non verbal).
3. Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar dan apa yang dikatakan oleh suara itu. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, tetapi perawat tidak. Katakan perawat akan membantu.
4. Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, waktu, frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan saat terjadi halusinasi.
5. Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi halusinasi.


3. Klien dapat mengontrol halusinasinya.
Tindakan :
1. Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika t erjadi halusinasi.
2. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya.
3. Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi : bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi, melakukan kegiatan, mengatakan pada suara tersebut “saya tidak mau dengar.”
4. Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih/dilakukan.
5. Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil.
6. Libatkan klien dalam TAK : stimulasi persepsi.


4. Klien dapat dukungan dari keluarga.
Tindakan :
1. Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala, cara, memutus halusinasi, cara merawat, informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan.
2. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.


5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar.
Tindakan :
1. Diskusikan tentang dosis, nama, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.
2. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara, waktu).
3. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
4. Beri reinforcement positif klien minum obat yang benar.


Diagnosa 2: Perubahan sensori perseptual : halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
Tujuan Umum: Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
Tujuan Khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi selanjutnya
Tindakan :
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapetutik
1. sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
2. Perkenalkan diri dengan sopan
3. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
4. Jelaskan tujuan pertemuan
5. Jujur dan menepati janji
6. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya
7. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.


2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Rasional :
· Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego diperlakukan sebagai dasar asuhan keperawatannya.
· Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri klien
· Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien melakukan kegiatan hanya karena ingin mendapatkan pujian
Tindakan:
2.1. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
2.2. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
2.3. Utamakan memberikan pujian yang realistic


3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Rasional :
· Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasyarat untuk berubah.
· Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri memotivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya
Tindakan:
1. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
2. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.


4. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Rasional :
· Membentuk individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri
· Klien perlu bertindak secara realistis dalam kehidupannya.
· Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan
Tindakan:
1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
· Kegiatan mandiri
· Kegiatan dengan bantuan sebagian
· Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
2.Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
3.Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan


5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Rasional :
§ Memberikan kesempatan kepada klien mandiri dapat meningkatkan motivasi dan harga diri klien
§ Reinforcement positif dapat meningkatkan harga diri klien
§ Memberikan kesempatan kepada klien ntk tetap melakukan kegiatan yang bisa dilakukan
Tindakan:
5.1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah


6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Rasional:
· Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien mandiri di rumah
· Support sistem keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan klien.
· Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.
Tindakan:
6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah
6.2.Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
6.3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

 
Copyright © 2014 Perpustakaan Indonesia. All Rights Reserved. Powered by Perpustakaan Indonesia
Template by Website and google